Mitos Seputar Penyakit Usus Buntu: Benar atau Tidak? Ini Penjelasan SehatQ.com

Saat kita merasakan nyeri yang hebat di bagian sebelah kanan bawah. perut, banyak orang merasa panik buru-buru menyimpulkannya sebagai penyakit usus buntu. Padahal tidak semua nyeri di bagian tersebut merupakan gejala apendisitis.  Memang banyak mitos yang beredar seputar keluhan kesehatan organ tersebut. Sebelum buru-buru menarik kesimpulan, simak fakta-fakta seputar kondisi ini, menurut SehatQ.com.

Organ Usus Buntu Tidak Mempunyai Fungsi
Organ yang terletak di bagian kanan perut melekat di ujung organ usus besar. Ukurannya memiliki panjang kurang lebih 8,5 cm. Bentuknya seperti tabung kecil, sekilas tampak seperti cacing. Bagian ujung organ ini menyerupai balon yang kempes.

Telah lama organ ini dipercaya tidak memiliki fungsi khusus. Dengan kata lain, dianggap sebagai organ sisa proses evolusi manusia. Namun, ternyata ada penelitian yang membuktikan organ ini memiliki kemungkinan berperan sebagai rumah pelindung bakteri baik. Organ ini dianggap memiliki andil dalam mempopulasikan bakteri baik. Khususnya setelah Anda mengkonsumsi antibiotik.

Penyakit Ini Terjadi Karena Organ Tersumbat
Usus buntu bisa jadi masalah yang serius ketika organ tersebut mengalami infeksi, bengkak serta meradang. Kondisi medis yang disebut apendisitis ini belum diketahui penyebabnya dengan jelas. Terkadang bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, maupun jamur. Apendisitis paling sering disebabkan oleh penyumbatan di bagian dalam organ ini. Kondisi ini disebut dengan lumen apendiks.

Terdapat beberapa penyebab tersumbatnya organ tersebut. Beberapa di antaranya batu usus buntu, cacing usus, iritasi yang disebabkan penyakit kronik, parasit, benda yang dianggap asing bagi tubuh, sampai cedera. 

Ketika mengalami infeksi atau tersumbat, bakteri dapat berkembang secara cepat. Hal ini memicu pembengkakan. Organ tersebut akan terisi oleh nanah. Jika tidak lekas mendapat penanganan yang serius, dapat berisiko komplikasi lebih lanjut. Bahkan berpotensi fatal hingga penderita meninggal dunia.

Setiap Orang Memiliki Risiko Radang Usus Buntu
Setiap orang memiliki risiko terkena Apendisitis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Johns Hopkins Medicine, penyakit ini paling banyak menyerang orang dengan rentang usia 10 hingga 30 tahun. Di Amerika Serikat, terdapat 250.000 kasus baru yang ditemukan setiap tahun. Kondisi medis ini lebih sering menyerang kaum pria. Potensi masalah kesehatan ini pada pria 1,4 kali lebih sering daripada perempuan.

Penyakit Ini Harus Selalu Ditangani dengan Operasi
Apendisitis terutama saat telah pecah dan menimbulkan komplikasi hingga infeksi serius memerlukan tindakan operasi segera. Di beberapa kasus berdasarkan rekomendasi dokter, dapat juga penderita diberi tindakan laparoskopi.

Berdasarkan jurnal JAMA, tentang riset pengidap apendisitis yang organnya belum pecah tidak perlu dilakukan prosedur dioperasi. Simpulan tersebut dibuat setelah melakukan peneliti selama 5 tahun. Telah dipelajari sebanyak 250 pasien dengan kondisi medis ini yang diberi terapi antibiotik. Terdapat  270 pasien lainnya yang menjalani prosedur operasi.

Hasilnya, 64% pasien yang telah diobati antibiotik dinyatakan sembuh. Mereka pun tidak mengalami komplikasi. Sementara 36% sisanya, menjalani prosedur operasi. Namun, penderita tidak mengalami kondisi yang gawat darurat.

dr. Edward Livingston yang merupakan Wakil Direktur JAMA, dalam jurnal mengemukakan  pasien boleh meminta secara langsung metode operasi. Apabila pasien tersebut khawatir apendisitis akan kembali kambuh.

Itu tadi 4 mitos seputar usus buntu. Anda bisa menjaga kesehatan tubuh termasuk organ pencernaan Anda dari penyakit ini dengan hidup sehat. Hindari terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang diolah dengan dibakar, digoreng, serta makanan pedas. Jika Anda ingin tahu tips-tips kesehatan lainnya dari dokter terpercaya, Anda dapat install Aplikasi SehatQ. Kunjungi juga laman SehatQ.com untuk mendapatkan informasi selengkapnya.